Saya tidak menghitung sudah berapa kali lagu Tears by Clean Bandit ft. Louisa Johnson diputar di playlist saya. Yang jelas, itu satu-satunya lagu yang saya dengar sejak sore tadi, dari sekitar beberapa jam yang lalu.
Saya tidak sedang dalam kondisi optimal saat menulis ini. Dan memang, saya selalu menulis ketika saya benar-benar merasa kurang baik. Ketika saya merasa letih, kepala saya terasa pening, bernapas saja rasanya sulit. Itu adalah saat-saat terbaik di mana saya bisa menulis dengan nyaman dan merasa bebas mengekspresikan unek-unek yang mengganjal hati saya.
Ada yang menganggu pikiran saya. Bukan hal yang konkret sebenarnya, dan saya pun merasa idiot karena terjebak dalam kejanggalan abstrak yang tidak menyenangkan ini. Tidak mudah bagi saya untuk mendestruksi emosi yang diakibatkan oleh pikiran-pikiran saya. Membuat saya merasa hampa, cemas, dan sedih.
Saya telah mencoba untuk berpikir realistis, mengatakan pada diri sendiri bahwa keadaan emosional saya yang sedang bergejolak ini tidak relevan dan tidak penting. Perasaan ini hanya perwujudan dari sisi kekanak-kanakan saya. Hanya ego yang tersentil lalu dibesar-besarkan sendiri. Tetapi, dengan mencoba meyakinkan diri seperti itu, ternyata membuat kecemasan dan kesedihan saya semakin bertambah. Saya merasa kesal dengan diri sendiri sebenarnya. Saya pikir saya bisa lebih baik dari sekadar emosi-emosi ini. Saya pikir seharusnya saya tidak perlu merasa melankolis sepanjang hari. Namun, pada akhirnya, saya sadar bahwa perasaan saya ini valid. Perasaan saya ini nyata. Butuh waktu untuk sembuh.
Pikiran-pikiran yang mengganggu itu, sejujurnya, adalah kerinduan saya pada suatu keadaan di mana saya pernah merasa bahagia sekali. Tentu saja, ada seseorang yang berperan di dalam keadaan itu. Dan, ya, orang tersebut adalah entitas utama yang mengganggu pikiran saya. Saya tahu besok pagi saya akan geli sendiri mengingat apa yang saya tulis saat ini. Saya pun sadar sedari tadi saya sudah cukup bertele-tele, karena jujur saja, saya merasa canggung dengan perasaan saya ini.
Hal-hal yang membuat saya merasa sedih dan kecewa adalah kenyataan bahwa kerinduan saya tidak akan pernah saya dapatkan kembali melalui cara yang sama. Sejak awal, diam-diam saya memupuk perasaan pada sumber kebahagiaan saya, menyampingkan konsekuensinya. Saya sadar dan tahu risiko seperti apa yang akan saya hadapi. Saya merindukan seseorang yang sejak awal dengan jelas telah menunjukkan ketidaksiapannya membalas perasaan saya. Saya sadar, perasaan saya akan tumbuh abnormal. Kerinduan saya, tidak dua arah. Tidak memiliki umpan balik. Tapi saya tidak pernah menduga, saya akan seterpuruk itu ketika risiko yang paling saya takuti menjadi kenyataan. Saya kehilangan sumber kebahagiaan saya, dengan cara yang sama sekali tidak pernah saya inginkan.
Sampai saat ini masih ada tanda tanya besar yang mengusik saya. Salah saya apa, sehingga saya dilupakan begitu saja?
Antisipasi yang selama ini saya buat untuk melindungi perasaan saya hanya sebatas kesadaran bahwa perasaan saya akan saya tanggung sendirian. Saya tidak pernah menyangka bahwa dianggap tidak pernah ada rasanya jauh lebih menyakitkan daripada sebuah perpisahan. Saya butuh banyak sekali kata untuk menggambarkan betapa kacaunya pikiran saya yang berusaha menerjemahkan perasaan-perasaan saya. Saya menghabiskan waktu merasa tidak berguna. Saya mengalihkan pikiran-pikiran tersebut dengan berusaha membenahi diri, belajar banyak hal baru. Tapi saya tidak pernah cukup. Saya selalu kembali pada kenyataan bahwa saya tidak penting, kesia-siaan. Saya tidak berguna di mata seseorang yang saya anggap sebagai rumah saya sendiri. Betapa kecewanya saya, pada diri saya sendiri.
Bukannya saya tidak berusaha untuk melupakan dan mengikhlaskan. Saya berlatih setiap hari. Ada hari di mana saya berhasil melupakan, ada hari di mana saya gagal seperti hari ini. Selama pertanyaan saya belum terjawab, saya mungkin akan selalu dihantui oleh pikiran-pikiran ini.
Bukannya saya tidak berani bertanya langsung pada seseorang yang telah meninggalkan banyak PR yang belum berhasil saya tuntaskan ini, tapi buat apa? Saya seharusnya sudah tahu jawabannya dari cara orang tersebut melupakan saya begitu saja. Yang saya butuhkan sebenarnya bukan jawaban dari orang tersebut, melainkan jawaban dari diri saya sendiri. Mengapa saya seperti ini? Haruskah saya seperti ini terus?
Saya sedang belajar melupakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar