Hal-hal semacam :
“Anak perempuan kalau menyapu harus bersih, kalau enggak nanti dapat
suami brewokan”
“Perempuan nggak boleh makan sayap ayam, nanti ditolak terus sama
laki-laki”
“Jangan duduk depan pintu, bisa jauh sama jodoh”
“Perempuan harus rajin cuci piring dan beres-beres rumah supaya kelak
dapat suami yang pekerja keras”
Sampai yang agak kejam seperti :
“Perempuan harus bisa masak”
“Perempuan jangan kuliah terlalu tinggi, nanti susah cari suami”
Etc.
See? Betapa banyak hal-hal yang dapat dilakukan oleh perempuan,
dibatasi oleh persepsi bahwa apapun yang mereka lakukan, itu akan memengaruhi
masa depan mereka. Dunia seakan runtuh jika tidak nurut ‘tata cara bagaimana
mendapatkan suami’. Menikah, seakan menjadi satu-satunya tujuan hidup seorang
perempuan.
Saya merasa aturan masyarakat
mengenai perempuan baik-baik, khususnya di Indonesia yang masyarakatnya masih marriage-minded, sangatlah horror. Saya tidak perlu mengecap diri
sebagai aktivis feminis untuk dapat menyuarakan ketidaksetujuan saya pada mindset tradisional seperti itu. Bagi
saya, tidak memiliki tujuan hidup lain selain ‘menikah dan hidup bahagia dengan
suami idaman’, terdengar seperti omong kosong.
Selama ini perempuan diajarkan
untuk menjadi cantik dan sempurna, dan biarkan nanti sang suami yang mengurus semuanya.
Tipe perempuan-perempuan seperti itu lah, yang sesungguhnya, membuat laki-laki mati muda. Saya dengar dari
salah satu kawan laki-laki saya, sebetulnya laki-laki itu mengagumi perempuan
yang ingin maju dan berusaha dengan kekuatan sendiri, dan mereka justru sangat
takut dengan perempuan tipe social
climbers yang senang memoroti laki-laki.
Jangan salah sangka, bukannya
saya berencana untuk menjadi ’too
independent woman’ yang hobi
menyuarakan kebencian terhadap laki-laki dan memilih untuk hidup tanpa
komitmen. Menikah dengan orang yang tepat serta memiliki keluarga yang ideal
adalah hal yang juga saya inginkan. Tetapi,
itu bukan satu-satunya tujuan hidup saya.
Menikah terdengar menyenangkan. Memiliki
anak, menjadi istri dan ibu yang bertanggung jawab dan seru. Tentu saja, saya akan merasa tertantang memasak untuk keluarga saya kelak (well, cooking is fun!), merasakan bagaimana rasanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mengantarkan anak ke sekolah. Tentu saya akan menghormati laki-laki yang akan menjadi suami saya kelak, mendukung dan
menghargai kerja kerasnya. Tentu saya ingin intens mendidik dan membimbing
anak-anak saya, belajar Good Parenting, menjadi
ibu yang kreatif dan cerdas. Intinya
adalah, sebagai seorang perempuan yang memiliki tujuan hidup, saya cukup banyak
memikirkan peran saya sebagai istri dan ibu untuk keluarga saya di masa depan.
Tetapi saya juga memikirkan hal-hal lain selain hanya menjadi istri dan ibu
yang ideal. Saya juga ingin menjadi berguna bagi diri saya sendiri. Saya ingin
menjadi perempuan yang juga produktif dan mandiri.
Menjadi house-wife terdengar umum, tetapi itu bukan cita-cita saya. Saya
ingin memiliki pekerjaan, menghasilkan uang dari keringat saya sendiri. Entah
itu dengan cara bekerja sebagai karyawan di perusahaan, berbisnis kuliner, memiliki
konveksi milik saya sendiri, sampai berjualan tupperware sekalipun. Saya tidak bisa membayangkan diri saya 10
tahun ke depan hanya duduk manis di depan meja setrikaan sambil menonton
sinetron di TV, sementara anak saya masih tidur dan sayur sup di dapur belum
matang. Saya tidak bisa membayangkan, jika itu menjadi satu-satunya rutinitas
yang akan saya lakukan di sisa hidup saya. Bagaimana jika tiba-tiba kelak suami
saya tidak dapat lagi mencari sumber nafkah sementara tidak ada hal lain yang
dapat saya lakukan selain melakukan pekerjaan rumah? Saya tidak pernah
menginginkan itu terjadi, tapi saya tetap harus menyiapkan diri menghadapi
risiko terbesar yang mungkin saja terjadi di masa depan saya.
Saya mungkin terdengar konyol,
tetapi membenahi diri dalam rangka supaya cepat dilamar laki-laki idaman bukan
tujuan hidup saya. Orang tua saya sekalipun pasti akan gemas melihat anak
perempuannya berpikir seperti ini (heheh).
Tentu saja saya akan membenahi diri, tetapi motivasinya bukan untuk
menikah, meskipun saya memang ingin menikah suatu saat nanti. Nanti, ketika saya merasa sudah menemukan seseorang yang lumayan spesial, saya baru akan mempertimbangkan soal menikah. Yang jelas, orang tersebut harus betul-betul mengagumkan di mata saya jika saya sampai mau menikah dengannya.
Sekarang coba perhatikan bagaimana
hampir semua majalah perempuan dewasa mengajarkan perempuan untuk bertingkah
seperti pelayan. ‘Sepuluh cara agar doi
betah di rumah’, salah satunya menyuruh perempuan untuk melakukan aksi roleplay memakai kostum bodoh kurang
bahan sambil menyuguhkan bir di saat pasangannya menonton acara bola. ‘Resep
rahasia agar doi selalu sayang sama kamu’, isinya menyuruh perempuan untuk
bertingkah seperti seorang pengikut setia sebuah sekte yang siap 24/7 melakukan
hal-hal yang sebetulnya tidak benar-benar dia sukai, hanya untuk menyenangkan
pasangannya. ‘Cara agar dapat menggaet pria dalam 10 menit’, yang isinya tak
lebih tentang cara menjaga penampilan semenarik mungkin, meskipun itu berarti tidak
tampil apa adanya. Kondisi perempuan diperparah dengan artikel-artikel basi yang ada di majalah perempuan. Majalah-majalah perempuan menginstruksikan perempuan untuk menjalankan beragam jurus rahasia agar dapat cepat-cepat dinikahi laki-laki (kayak laki-laki nggak tahu aja, mereka juga diam-diam baca majalah perempuan untuk 'mengamati' kita).
Ya, memang tidak ada salahnya menyenangkan pasangan atau orang yang kita suka, tapi bukan berarti membuat kita para perempuan harus merasa terjerat benang tak kasat mata yang mengharuskan kita melakukan hal-hal yang tidak kita sukai hanya untuk menyenangkan laki-laki. Perempuan yang cerdas tahu cara menyenangkan pasangannya tanpa harus berakting dungu dengan melakukan apapun yang laki-laki inginkan. Ia tak perlu repot-repot mengorbankan kebahagiaannya untuk membuat pasangannya bahagia. Sebenarnya, hanya kita sendiri yang dapat mengajarkan orang lain bagaimana caranya menghargai kita, self-respect adalah yang utama. Kalau kita tahu bagaimana caranya menyenangkan diri sendiri, orang lain juga akan mengapresiasi bagaimana caranya kita bersenang-senang. Otomatis kita akan dikelilingi oleh orang-orang yang respek terhadap kita, karena yang tidak respek tidak akan kita pedulikan.
So girls, stop acting dumb. Perempuan yang memiliki
pemikiran sendiri, bukan tipe pengikut tolol yang pasrah, sebetulnya lebih
menarik daripada perempuan patuh yang dalam isi kepalanya hanya ada nikah,
nikah, dan nikah.
Bagi saya, perempuan baik-baik itu adalah
perempuan yang mandiri dan punya tujuan hidup (selain hanya soal menikah).
Perempuan yang dapat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri tanpa bantuan
suami idaman. Perempuan yang akan mengejar karirnya, mengejar pendidikannya,
tidak takut menjadi cerdas dan memiliki opininya sendiri. Perempuan yang meski penghasilannya pas-pasan, tapi
dapat mengatur uangnya sampai akhir bulan.
And the perks of being a ‘good girl’ is.... kita bisa membahagiakan
diri sendiri tanpa harus menunggu nikah atau dapat suami super kaya. Selain itu, nilai kita sebagai perempuan yang berkualitas akan melejit tinggi. Heheheh.
Anyway, Selamat Hari Perempuan!