Kamis, 08 Maret 2018

The Perks of being a "Good Girl"

Saya sering mendengar nasihat tentang bagaimana caranya menjadi perempuan baik-baik supaya kelak mendapatkan suami idaman entah itu dari orang tua, temannya orang tua, majalah perempuan, atau bahkan dari acara talkshow di televisi.

Hal-hal semacam :
“Anak perempuan kalau menyapu harus bersih, kalau enggak nanti dapat suami brewokan”
“Perempuan nggak boleh makan sayap ayam, nanti ditolak terus sama laki-laki”
“Jangan duduk depan pintu, bisa jauh sama jodoh”
“Perempuan harus rajin cuci piring dan beres-beres rumah supaya kelak dapat suami yang pekerja keras”

Sampai yang agak kejam seperti :
“Perempuan harus bisa masak”
“Perempuan jangan kuliah terlalu tinggi, nanti susah cari suami”
Etc.

See? Betapa banyak hal-hal yang dapat dilakukan oleh perempuan, dibatasi oleh persepsi bahwa apapun yang mereka lakukan, itu akan memengaruhi masa depan mereka. Dunia seakan runtuh jika tidak nurut ‘tata cara bagaimana mendapatkan suami’. Menikah, seakan menjadi satu-satunya tujuan hidup seorang perempuan.

Saya merasa aturan masyarakat mengenai perempuan baik-baik, khususnya di Indonesia yang masyarakatnya masih marriage-minded, sangatlah horror. Saya tidak perlu mengecap diri sebagai aktivis feminis untuk dapat menyuarakan ketidaksetujuan saya pada mindset tradisional seperti itu. Bagi saya, tidak memiliki tujuan hidup lain selain ‘menikah dan hidup bahagia dengan suami idaman’, terdengar seperti omong kosong.

Selama ini perempuan diajarkan untuk menjadi cantik dan sempurna, dan biarkan nanti sang suami yang mengurus semuanya. Tipe perempuan-perempuan seperti itu lah, yang sesungguhnya, membuat laki-laki mati muda. Saya dengar dari salah satu kawan laki-laki saya, sebetulnya laki-laki itu mengagumi perempuan yang ingin maju dan berusaha dengan kekuatan sendiri, dan mereka justru sangat takut dengan perempuan tipe social climbers yang senang memoroti laki-laki.

Jangan salah sangka, bukannya saya berencana untuk menjadi ’too independent woman’  yang hobi menyuarakan kebencian terhadap laki-laki dan memilih untuk hidup tanpa komitmen. Menikah dengan orang yang tepat serta memiliki keluarga yang ideal adalah hal yang juga saya inginkan. Tetapi, itu bukan satu-satunya tujuan hidup saya.

Menikah terdengar menyenangkan. Memiliki anak, menjadi istri dan ibu yang bertanggung jawab dan seru. Tentu saja, saya akan merasa tertantang memasak untuk keluarga saya kelak (well, cooking is fun!), merasakan bagaimana rasanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mengantarkan anak ke sekolah. Tentu saya akan menghormati laki-laki yang akan menjadi suami saya kelak, mendukung dan menghargai kerja kerasnya. Tentu saya ingin intens mendidik dan membimbing anak-anak saya, belajar Good Parenting, menjadi ibu yang kreatif dan cerdas. Intinya adalah, sebagai seorang perempuan yang memiliki tujuan hidup, saya cukup banyak memikirkan peran saya sebagai istri dan ibu untuk keluarga saya di masa depan. Tetapi saya juga memikirkan hal-hal lain selain hanya menjadi istri dan ibu yang ideal. Saya juga ingin menjadi berguna bagi diri saya sendiri. Saya ingin menjadi perempuan yang juga produktif dan mandiri.

Menjadi house-wife terdengar umum, tetapi itu bukan cita-cita saya. Saya ingin memiliki pekerjaan­, menghasilkan uang dari keringat saya sendiri. Entah itu dengan cara bekerja sebagai karyawan di perusahaan, berbisnis kuliner, memiliki konveksi milik saya sendiri, sampai berjualan tupperware sekalipun. Saya tidak bisa membayangkan diri saya 10 tahun ke depan hanya duduk manis di depan meja setrikaan sambil menonton sinetron di TV, sementara anak saya masih tidur dan sayur sup di dapur belum matang. Saya tidak bisa membayangkan, jika itu menjadi satu-satunya rutinitas yang akan saya lakukan di sisa hidup saya. Bagaimana jika tiba-tiba kelak suami saya tidak dapat lagi mencari sumber nafkah sementara tidak ada hal lain yang dapat saya lakukan selain melakukan pekerjaan rumah? Saya tidak pernah menginginkan itu terjadi, tapi saya tetap harus menyiapkan diri menghadapi risiko terbesar yang mungkin saja terjadi di masa depan saya.

Saya mungkin terdengar konyol, tetapi membenahi diri dalam rangka supaya cepat dilamar laki-laki idaman bukan tujuan hidup saya. Orang tua saya sekalipun pasti akan gemas melihat anak perempuannya berpikir seperti ini (heheh). Tentu saja saya akan membenahi diri, tetapi motivasinya bukan untuk menikah, meskipun saya memang ingin menikah suatu saat nanti. Nanti, ketika saya merasa sudah menemukan seseorang yang lumayan spesial, saya baru akan mempertimbangkan soal menikah. Yang jelas, orang tersebut harus betul-betul mengagumkan di mata saya jika saya sampai mau menikah dengannya.

Sekarang coba perhatikan bagaimana hampir semua majalah perempuan dewasa mengajarkan perempuan untuk bertingkah seperti pelayan. ‘Sepuluh cara agar doi betah di rumah’, salah satunya menyuruh perempuan untuk melakukan aksi roleplay memakai kostum bodoh kurang bahan sambil menyuguhkan bir di saat pasangannya menonton acara bola. ‘Resep rahasia agar doi selalu sayang sama kamu’, isinya menyuruh perempuan untuk bertingkah seperti seorang pengikut setia sebuah sekte yang siap 24/7 melakukan hal-hal yang sebetulnya tidak benar-benar dia sukai, hanya untuk menyenangkan pasangannya. ‘Cara agar dapat menggaet pria dalam 10 menit’, yang isinya tak lebih tentang cara menjaga penampilan semenarik mungkin, meskipun itu berarti tidak tampil apa adanya. Kondisi perempuan diperparah dengan artikel-artikel basi yang ada di majalah perempuan. Majalah-majalah perempuan menginstruksikan perempuan untuk menjalankan beragam jurus rahasia agar dapat cepat-cepat dinikahi laki-laki (kayak laki-laki nggak tahu aja, mereka juga diam-diam baca majalah perempuan untuk 'mengamati' kita).

Ya, memang tidak ada salahnya menyenangkan pasangan atau orang yang kita suka, tapi bukan berarti membuat kita para perempuan harus merasa terjerat benang tak kasat mata yang mengharuskan kita melakukan hal-hal yang tidak kita sukai hanya untuk menyenangkan laki-laki. Perempuan yang cerdas tahu cara menyenangkan pasangannya tanpa harus berakting dungu dengan melakukan apapun yang laki-laki inginkan. Ia tak perlu repot-repot mengorbankan kebahagiaannya untuk  membuat pasangannya bahagia. Sebenarnya, hanya kita sendiri yang dapat mengajarkan orang lain bagaimana caranya menghargai kita, self-respect adalah yang utama. Kalau kita tahu bagaimana caranya menyenangkan diri sendiri, orang lain juga akan mengapresiasi bagaimana caranya kita bersenang-senang. Otomatis kita akan dikelilingi oleh orang-orang yang respek terhadap kita, karena yang tidak respek tidak akan kita pedulikan.

So girls, stop acting dumb. Perempuan yang memiliki pemikiran sendiri, bukan tipe pengikut tolol yang pasrah, sebetulnya lebih menarik daripada perempuan patuh yang dalam isi kepalanya hanya ada nikah, nikah, dan nikah.

Bagi saya, perempuan baik-baik itu adalah perempuan yang mandiri dan punya tujuan hidup (selain hanya soal menikah). Perempuan yang dapat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri tanpa bantuan suami idaman. Perempuan yang akan mengejar karirnya, mengejar pendidikannya, tidak takut menjadi cerdas dan memiliki opininya sendiri. Perempuan yang meski penghasilannya pas-pasan, tapi dapat mengatur uangnya sampai akhir bulan.

And the perks of being a ‘good girl’ is.... kita bisa membahagiakan diri sendiri tanpa harus menunggu nikah atau dapat suami super kaya. Selain itu, nilai kita sebagai perempuan yang berkualitas akan melejit tinggi. Heheheh.

Anyway, Selamat Hari Perempuan!

Sabtu, 03 Maret 2018

Untitled

Saya tidak menghitung sudah berapa kali lagu Tears by Clean Bandit ft. Louisa Johnson diputar di playlist saya. Yang jelas, itu satu-satunya lagu yang saya dengar sejak sore tadi, dari sekitar beberapa jam yang lalu.

Saya tidak sedang dalam kondisi optimal saat menulis ini. Dan memang, saya selalu menulis ketika saya benar-benar merasa kurang baik. Ketika saya merasa letih, kepala saya terasa pening, bernapas saja rasanya sulit. Itu adalah saat-saat terbaik di mana saya bisa menulis dengan nyaman dan merasa bebas mengekspresikan unek-unek yang mengganjal hati saya.

Ada yang menganggu pikiran saya. Bukan hal yang konkret sebenarnya, dan saya pun merasa idiot karena terjebak dalam kejanggalan abstrak yang tidak menyenangkan ini. Tidak mudah bagi saya untuk mendestruksi emosi yang diakibatkan oleh pikiran-pikiran saya. Membuat saya merasa hampa, cemas, dan sedih.

Saya telah mencoba untuk berpikir realistis, mengatakan pada diri sendiri bahwa keadaan emosional saya yang sedang bergejolak ini tidak relevan dan tidak penting. Perasaan ini hanya perwujudan dari sisi kekanak-kanakan saya. Hanya ego yang tersentil lalu dibesar-besarkan sendiri. Tetapi, dengan mencoba meyakinkan diri seperti itu, ternyata membuat kecemasan dan kesedihan saya semakin bertambah. Saya merasa kesal dengan diri sendiri sebenarnya. Saya pikir saya bisa lebih baik dari sekadar emosi-emosi ini. Saya pikir seharusnya saya tidak perlu merasa melankolis sepanjang hari. Namun, pada akhirnya, saya sadar bahwa perasaan saya ini valid. Perasaan saya ini nyata. Butuh waktu untuk sembuh.

Pikiran-pikiran yang mengganggu itu, sejujurnya, adalah kerinduan saya pada suatu keadaan di mana saya pernah merasa bahagia sekali. Tentu saja, ada seseorang yang berperan di dalam keadaan itu. Dan, ya, orang tersebut adalah entitas utama yang mengganggu pikiran saya. Saya tahu besok pagi saya akan geli sendiri mengingat apa yang saya tulis saat ini. Saya pun sadar sedari tadi saya sudah cukup bertele-tele, karena jujur saja, saya merasa canggung dengan perasaan saya ini.

Hal-hal yang membuat saya merasa sedih dan kecewa adalah kenyataan bahwa kerinduan saya tidak akan pernah saya dapatkan kembali melalui cara yang sama. Sejak awal, diam-diam saya memupuk perasaan pada sumber kebahagiaan saya, menyampingkan konsekuensinya. Saya sadar dan tahu risiko seperti apa yang akan saya hadapi. Saya merindukan seseorang yang sejak awal dengan jelas telah menunjukkan ketidaksiapannya membalas perasaan saya. Saya sadar, perasaan saya akan tumbuh abnormal. Kerinduan saya, tidak dua arah. Tidak memiliki umpan balik. Tapi saya tidak pernah menduga, saya akan seterpuruk itu ketika risiko yang paling saya takuti menjadi kenyataan. Saya kehilangan sumber kebahagiaan saya, dengan cara yang sama sekali tidak pernah saya inginkan.

Sampai saat ini masih ada tanda tanya besar yang mengusik saya. Salah saya apa, sehingga saya dilupakan begitu saja?

Antisipasi yang selama ini saya buat untuk melindungi perasaan saya hanya sebatas kesadaran bahwa perasaan saya akan saya tanggung sendirian. Saya tidak pernah menyangka bahwa dianggap tidak pernah ada rasanya jauh lebih menyakitkan daripada sebuah perpisahan. Saya butuh banyak sekali kata untuk menggambarkan betapa kacaunya pikiran saya yang berusaha menerjemahkan perasaan-perasaan saya. Saya menghabiskan waktu merasa tidak berguna. Saya mengalihkan pikiran-pikiran tersebut dengan berusaha membenahi diri, belajar banyak hal baru. Tapi saya tidak pernah cukup. Saya selalu kembali pada kenyataan bahwa saya tidak penting, kesia-siaan. Saya tidak berguna di mata seseorang yang saya anggap sebagai rumah saya sendiri. Betapa kecewanya saya, pada diri saya sendiri.

Bukannya saya tidak berusaha untuk melupakan dan mengikhlaskan. Saya berlatih setiap hari. Ada hari di mana saya berhasil melupakan, ada hari di mana saya gagal seperti hari ini. Selama pertanyaan saya belum terjawab, saya mungkin akan selalu dihantui oleh pikiran-pikiran ini.

Bukannya saya tidak berani bertanya langsung pada seseorang yang telah meninggalkan banyak PR yang belum berhasil saya tuntaskan ini, tapi buat apa? Saya seharusnya sudah tahu jawabannya dari cara orang tersebut melupakan saya begitu saja. Yang saya butuhkan sebenarnya bukan jawaban dari orang tersebut, melainkan jawaban dari diri saya sendiri. Mengapa saya seperti ini? Haruskah saya seperti ini terus?

Saya sedang belajar melupakan.